Label

Merumuskan Perintah Lisan Atau Tulisan

Advertisemen
A. Membaca
Merumuskan Perintah Lisan Atau Tulisan
Setiap hari kamu menyimak berbagai informasi. Ada yang berupa berita, pertanyaan, ataupun perintah. Informasi tersebut ada yang diungkapkan secara langsung ada juga yang tidak. Khusus untuk informasi yang berbentuk perintah dapat dinyatakan dengan kalimat perintah langsung atau dapat pula tersirat dalam bentuk kalimat tanya atau berita. Untuk itu, kamu diharapkan mampu merumuskan kembali perintah lisan/tulis dengan menggunakan kiat mengenali perintah.
Merumuskan perintah lisan/tulis dapat dilakukan dengan memahami kalimat perintah. Kalimat perintah, dalam kosasih (2002: 138), dijelaskan sebagai kalimat imperatif, yaitu kalimat yang tujuannya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu. Dalam bentuk tulis, kalimat perintah ditulis dengan diakhiri tanda seru, sedangkan dalam bentuk lisan ditandai dengan nada naik pada akhir kalimat.


Ciri-ciri kalimat perintah
  • Menggunakan kata kerja transitif, biasanya disertai partikel -lah pada predikatnya. Contoh: Belilah sepatu hitam itu!
  • Menggunakan kata tolong, coba, dan silahkan untuk memberikan kesan halus/sopan pada kalimat perintah . Contoh: Tolong kirimkan bingkisan ini pada orang tuamu!
  • Didahului kata jangan untuk menyatakan larangan. Contoh: Jangan membuang sampah sembarangan!
Menurut Ramlam (1986: 42), kalimat perintah disebut juga kalimat suruh. Jenisnya bermacam-macam:
1. Kalimat suruh yang sebenarnya
Kalimat suruh yang sebenarnya biasa ditandai dengan pola intonasi suruh, Kalimat perintah jenis ini dapat dijabarkan hanya dengan sebuah verba intansitif. Namun, adapula yang menggunakan struktur kalimat lengkap, menggunakan verba transitif disertai objeknya. Sebagai pengukuh perintah, kalimat ini biasanya menggunakan partikel -lah dan kata tolong.
Misalnya:
  • Beristirahatlah!
  • Datanglah engkau ke rumahku!
  • Carilah buku baru itu ke perpustakaan!
  • Pakailah baju yang bersih!
  • Tolong Ambilkan minum saya! 
  • Tolong tuliskan surat!
2. Kalimat Persilahan
Kalimat persilahan ditandai kata silakan atau dipersilakan yang terletak di awal kalimat. Subjek dapat dihilangkan dapat pula tidak.
Misalnya:
  • Silahkan Bapak duduk di sini!
  • Dipersilakan Tuan mengambil buku sendiri!
  • Silahkan datang ke rumahku!
  • Dipersilahkan berangkat dahulu!
3. Kalimat Ajakan
Kalimat ajakan adalah kalimat yang diharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak bicara. Selain ditandai pola intonasi suruh, kalimat ajakan juga ditandai dengan kata-kata ajakan. seperti mari, marilah, ayo, ayolah.
Misalnya:
  • Mari kita berangkat sekarang!
  • Marilah belajar ke perpustakaan pusat!
  • Ayo kita bermain sepak bola!
  • Ayolah duduk di depan!
4. Kalimat Larangan
Kalimat larangan ditandai dengan pola intonasi suruh dan kata jangan. Partikel -lah dapat ditambahkan pada kata tersebut untuk memperhalus larangan.
Misalnya :
Jangan engkau membaca membaca buku itu!
Janganlah engkau berangkat sendiri!
Jangan suka menyakiti hati orang!

B. Menulis
Menuliskan Kembali Isi Perintah Dalam Bentuk Kerangka Atau Bagan
Menulis kembali isi perintah dalam bentuk kerangka atau bagan dapat dilakukan dengan menghubungkan topik, tema/subtopik, dan tujuan dari pesan yang berbentuk perintah. Topik merupakan gagasan pokok pesan yang disampaikan. sedangkan tema atau subtopik merupakan bagian khusus dari topik luas, sedangkan tujuan merupakan keinginan yang akan dicapai oleh pemberi perintah.
Contoh:
  • Topik : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
  • Tema/subtopik : Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Tujuan : Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara sederhana
Pengertian Kerangka
Kerangka/bagan adalah garis besar perintah dalam bentuk tulis berupa memo, nota dinas, atau perintah kerja. Dalam bentuk lisan,
kerangka perintah bermanfaat untuk:
  • memudahkan penyusunan perintah secara lengkap.
  • memudahkan penempatan bagian yang terpenting.
  • menghindari adanya perintah ganda
  • membantu menafsirkan isi perintah secara lengkap atau sempurna.
Kerangka atau bagan sebuah perintah berbentuk lebih ringkas daripada perintah yang sesungguhnya. Perintah dalam bentuk paragraf, kerangkanya dapat ditulis dalam bentuk kalimat, tentu kerangkanya dapat ditulis dalam bentuk frasa ataupun kata.
Contoh:
Proses pembuatan pakaian jadi

Mula-mula kain diukur, kemudian dibuat pola. Setelah jadi, pola dilekatkan pada kain, potong sesuai dengan ukuran, dan kain selanjutnya dijahit. Pakaian pun siap dipakai.
Bagan : Ukur kain -> buat pola -> lekatkan pola di kain -> dipotong -> kain dijahit -> siap pakai

Dari contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa bagan selalu lebih ringkas daripada perintah asli, baik dalam bentuk paragraf , wacana, maupun yang lain.
Setelah tugas/perintah telah ditulis kembali dalam bentuk bagan/kerangka, ada baiknya bagan/kerangka tersebut dikonfirmasikan kembali kepada pemberi perintah.
Manfaat pengonfirmasian perintah tersebut adalah sebagai berikut.
  • tugas dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa kesalahan.
  • menghindari kesalahan teknis (akibat salah dengar, salah baca, atau salah ketik)
  • terjadi hubungan yang baik antara pemberi dan penerima perintah (tidak terjadi kesalah pahaman).
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
© Copyright 2017 Rajin Membaca - All Rights Reserved - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger