Teknologi Budidaya Ikan Baung

Advertisement
Your Ads Here
Pada artikel sebelumnya kami sudah membahas dan menguraikan Pengenalan Jenis Ikan Baung secara rinci mulai dari Klasifikasi Ikan Baung, Jenis - jenis Ikan Baung, Sifat Biologis Ikan Baung, sampai Daerah Penyebaran Ikan Baung, Untuk mempelajari lebih dalam kami akan meneruskan pembahasan mengenai ikan baung, dan sebagai penutup dari pembasahan ikan baung ini kami ulas sampai akhir dengan materi Peluang Pasar , berikut adalah materi yang kami sampaikan.
Teknologi budidaya ikan baung mulai disebarkan secara luas sejak tahun 1990-an, setelah ditemukan teknik pembenihan intensif dengan teknik hypofisasi (kawin suntik menggunakan hormon hipofisa). Seperti ikan jenis lainnya, secara garis besar budidaya ikan baung dibagi menjadi dua bagian, yaitu kegiatan pembenihan dan kegiatan pembesaran. Saat ini kegiatan pembehihannya masih terbatas dilakukan oleh pihak pemerintah (lembaga penelitian perikanan dan Balai Benih Ikan tertentu). Kegiatan pembenihan ini umumnya dilakukan untuk memproduksi benih baung hingga mencapai ukuran tertentu. Upaya penyediaan benih yang tepat baik dalam segi jumlah, waktu, maupun kualitas yang baik merupakan faktor utama menjamin kelangsungan usaha pembesaran baung hingga ukuran konsumsi.

A. Pembenihan Ikan Baung
Pemijahan ikan baung dengan cara penyuntikan dapat dilakukan menggunakan kelenjar hypofisa yang berasal dari donor ikan mas. Selain itu, juga dapat menggunakan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dengan nama dagang pregnyl atau ovaprime. Dosisnya sebanyak 0,8 ml per kg induk betina dan 0,5 ml per kg induk jantan. Penyuntikan induk betina dilakukan sebanyak dua kali. Penyuntikan pertama dilakukan setengah dosis, dan penyuntikan kedua juga setengah dosis. Penyuntikan kedua dilakukan 8-10 jam setelah penyuntikan pertama. Pada penyuntikan pertama juga dilakukan penyuntikan induk jantan. Penyuntikan induk betina dan jantan dilakukan secara intramuskular (di dalam otot atau daging) yang dilakukan persis dibelakang pangkal sirip punggung. Induk-induk baung yang telah disuntik dipelihara secara terpisah antara jantan dengan betina. Pemeliharaan dilakukan di bak tembok yang airnya mengalir atau di dalam happa.
Telur-telur yang telah dibuahi, lalu di tetaskan di dalam corong penetasan, Untuk menhindari timbulnya jamur pada telur, maka telur direndam dengan Emolin atau Blitz-ich dengan dosis 0,05 cc per liter air. Zat-zat kimia tersebut dapat di beli di toko kimia atau apotek, Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa setiap kilogram bobot induk betina menghasilkan (fekunditas) 18.730-72.160 butir telur. Sifat fisika dan kimia air yang cocok untuk penetasan telur baung adalah 7,76-6,4 mg/l, dan CO2 berkisar 10,7-13,7 mg/l.

Benih-benih atau larva ikan baung yang baru menetas (berumur 1 hari) berukurab 0,5 cm dengan berat 0,7 mg. Larva ini ditampung dalam happa yang dipasang bak fibreglass berbentuk bulat. Selanjutnya, larva ini di pelihara di akuarium berukuran 70 x 40 x 40 cm. Setiap akuarium diisi air bersih dan jernih yang telah diaerasi dengan bantuan blower. Setiap akuarium dapat menampung benih baung sebanyak 10 ekir benih per liter air.
Larva yang masih berumur 1 hari belum diberikan pakan tambahan, karena benih tersebut masih mempunyai cadangan pakan berupa yolk egg sack atau kuning telur. Pada hari kedua dan ketiga benih baru diberi pakan tambahan berupa Moina cryprinacea, pada hari ke empat sampat hari ke sepuluh pakan tambahan diganti dengan Artemia yang telah di tetaskan. Pada hari ke lima belas, larva dapat di beri pakan alami berupa Daphnia sp. Selanjutnya, larva di beri pakan cacing rambut. Frekuensi pemberian pakan di lakukan 5 kali per hari, yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00
Larva ikan baung mempunyai kebiasaan menyebar pada malam hari dan hidup berkelompk serta membentuk gumpalan terutama pada siang hari, sehingga dapat menyebabkan kematian larva yang berada di bagian dalam karena kekurangan oksigen. Karena itu, sistem aerasi harus selalu diperhatikan agar kandungan oksigen terlarut di dalam air akuarium pemeliharaan larva tetap tinggi. Selain itu, agar kualitas air tetap baik dilakukan penyifonan kotoran yang mengendap di dasar akuarium. Penyifonan dilakukan 1 kali dalam sehari, pada pagi sebelum pemberian pakan.

B. Pendederan Ikan Baung
Benih-benih ikan baung hasil penetasan selanjutnya dipelihara atau didederkan di kolam tanah atau kolam tembok. Sebelum dilakukan penebaran benih, perlu dilakukan persiapan kolam yang meliputi pengeringan dan penjemuran kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, pemupukan, serta pembuatan caren (kemalir). Pengeringan kolam dan penjemuran selama 3 hari bermanfaat untuk membunuh bibit-bibit penyakit atau hama-hama yang ada di dalam kolam.
Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan cara membalikkan tanah dasar kolam, lalu dibuatkan kemalir dengan kemiringan 0,5 - 1% ke arah pintu pengeluaran. Untuk menumbuhkan pakan alami, kolam sebaiknya dipupuk menggunakan kotoran ayam petelur sebanyak 500 - 1.000 gram/m2, tergantung kusuburan tanah. Pupuk tersebut disebarkan merata di dasar kolam. Pada hari keempat kolam diisi air secara bertahap sampai mencapai ketinggian 90 cm.

Agar pakan alami cukup tersedia, ke dalam kolam ikan juga dilakukan inokulasi (penebaran) Moina sp. Inokulasi ini dilakukan setiap hari setelah pengisian air. Bibit Moina sp, yang meruapakn zooplankton dapat diperoleh di Balai Benih Ikan (BBI) terdekat atau di seleksi dari perairan umum (saluran air) yang banyak kandungan bahan organiknya. Setelah itu, kolam didiamkan selama 3 -4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp dapat berkembang biak. Sebelum benih ikang baung di tebar di kolam dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, oksigen, dan pH.
Penebaran benih dilakukan pada hari ke-3 setelah penebaran Moina sp. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari benih stres. Pengambilan benih dilakukan dengan menguras sebagian air akuarium, lalu benih ditangkap menggunakan serokan halus dan ditampung di dalam ember ata baskom plastik. Setelah itu, penebaran dilakukan secara hati-hati di bagian tepi kolam. Caranya dengan menenggelamkan ember ke dalam air kolam sehingga benih benih ikan baung akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benih tidak boleh dilakukan dengan cara menggerojokkan air dari ember langsung ke dalam kolam, karena dapat mengakibatkan benih baung mengalami stres.
Pada tebar benih 50 - 100 ekor/m2 dengan ukuran benih rata-rata 2,4 cm, jika kolam diyakini kurang subur, padat tebar benih dikrangi menjadi 20 - 50 ekor/m2. Pemeliharaan benih dilakukan selama empat minggu. Pakan yang dapat diberikan selama pemeliharaan bisa berupa pakan komersial (pelet) dengan kadar protein 28 - 30% sebanyak 25 - 100% total biomassa/hari. Sebelum diberikan, sebaiknya pelet ini dihancurkan. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari, pada pagi, siang, dan sore hari.

C. Pembesaran Ikan Baung
Pembesaran ikan baung biasanya dilakukan setelah benih didederkan terlebih dahulu. Namun, ada juga pembudidaya yang langsung memeliharanya di kolam pembesaran, tanpa melalui pendederan. Pembesaran ikan baung dapat dilakukan di berbagai media seperti di kolam air tenggenang (kolam tanah, tembok, atau beton), kolam rawa, di karamba jaring apung (KJA), atau di karamba.
Kolam yang digunakan untuk pembesaran ikan baung disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Biasanya, kolam pembesaran yang digunakan memiliki luas minimum 100m2. Sementara itu, jaring yang di gunakan untuk memelihara ikan baung di KJA harus memiliki ukuran mata 2,5 cm dengan jaring polietilen nomor 240 D/12. Berdasarkan pengalaman para petani, jika ikan baung yang akan dipeliharan berukuran 20 - 100g/ekor, mata jaring yang digunakan berukuran 2 inci.
Sebelum penebaran benih, kolam pembesaran harus dikeringkan terlebih dahulu selama 5 - 7 hari dengan tujuan untuk membunuh bibit - bibit penyakit, memberantas hama, dan memudahkan pemupukan untuk menumbuhkan pakan alami. Pupuk yang digunaka berupa pupuk kandang sebanyak 500gram/m2 dan kapur pertanian sebanyak 15 gram/m2. Pupuk dan kapur pertanian tersebut disebar rata di permukaan dasar kolam. Setelah itu, pintu pengeluaran air kolam ditutup, sedangkan pintu pemasukan air dibuka sambil dipasang saring untuk menjaga agar ikan-ikan liar tidak bisa masuk. Ketinggian air di dalam kolam sebaiknya dipertahankan 75 - 100 cm.

Penebaran benih ikan baung dilakukan 7 hari setelah pemupukan, saat pakan alami telah tersedia. Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suhu udara masih rendah agar benih tidak mengalami stres. Untuk setiap kolam seluas 100m2 dapat ditebarkan benih baung sebanyak 50 ekor dengan ukuran rata-rata 45 gram per ekor. Selama pemeliharaan, ikan baung diberi pakan tambahan berupa pakan buatan komersial yang umum digunakan adalah pelet dengan kandungan protein minimum 25%. Namun lebih baik diberi pakan yang kandungan proteinnya 28%. Sementara itu, pakan tambahan alternatif yang diberikan bisa berupa campuran antara ikan rucah dan dedak halus. Pakan tambahan ini diberikan sebanyak 3% per hari dari berat total ikan.
Lama pemeliharaan sangat tergantung dari ukuran benih yang ditebarkan. Untuk pembesaran di KJA, jika benih yang ditebar berukuran 30 - 50 gram per ekor, dalam waktu 4 bulan pemeliharaab akan mencapai bobot 150 - 200 gram per ekor atau 5 ekor per kg. Pada pembesaran di kolam, kika benih menjadi 113 gram per ekor dan jika di pelihara selama 4 bulan, ukurannya akan menyamai ikan baung yang dipelhara di KJA dengan syarat pakan yang diberikan memiliki kandungan protein sesuai yang dianjurkan. Pemanenan ikan baung harus dilakukan secara berhati hati untuk menghindari terjadinya stres atau luka-luka sehingga mutu ikan tetap bagus dan harga jualnya tetap tinggi.

D. Peluang Pasar Ikan Baung
Sampai saat ini peluang pasar ikan baung masih terbuka lebar. Di pasar ekspor, ikan ini sudah menembus pasar Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Sementara di dalam negri, ikan ini sangat populer di Sumatra,khususnya di Provinsi Riau (Pekanbaru, Batam, dan Tanjung Pinang). Di daerah tersebut, ikan baung banyak disajikan di restoran dalam bentuk menu asam pedas atau gulai kuning. Selain dalam bentuk segar, ikan baung juga dikonsumsi dalam bentuk ikan asap atau biasa dikenal dengan ikan salai. Jika digoreng, rasa daging ikan baung yang di salai sanagt mirip dengan rasa daging belut.

Penutup
Sebagaimana yang sudah kami bahas di artikel kedua ini dalam pembahasan Ikan Baung, maka artikel ini adalah penutup dari tema Budidaya Ikan Baung. Walaupun masih terdapat beberapa kekurangan dari segi pengetahuan namun kami harap anda dapat memakluminya, dan semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi kita semua. Saya Nur aliah terimakasih atas kunjungan anda selamat berbudidaya.
Advertisement
Your Ads Here

You might also like

0 Comments


EmoticonEmoticon